My Location: (Showing)
Search
Logo Kuwera.ID
BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,06 Persen Tertinggi Sejak 2015 | OJK Minta Keuangan Syariah Manfaatkan Teknologi Digital | Darmin Nasution membeberkan di tengah persoalan ekonomi dunia, masih ada peluang baik seperti ekonomi digital yang justru meningkat pesat. | Indonesia Punya Peluang Besar Ekspor Mobil ke Australia | Saat berbicara usai membuka The 6th ASEAN OSHNET Conference atau Konferensi ASEAN OSHNET Keenam, Kamis (28/3/2019), Hanif menggarisbawahi bahwa  di era pemerintahan Joko Widodo, telah tercipta 10.540.000 lapangan pekerjaan. | Demi memanfaatkan potensi pertumbuhan ekonomi agar lebih maksimal, wajar bagi sebuah negara menarik utang dari dalam maupun luar negeri, kata Faisal Basri dalam orasi kebudayaan kampanye ekonomi 2019 di Soehana Hall, Energy Building, Jakarta Selatan, Kamis, 11 April 2019 |

Menteri Darmin Nasution Ungkap Sejarah Dolar Menguasai Dunia
25 Jul 2018

Menteri Darmin Nasution Ungkap Sejarah Dolar Menguasai Dunia


JAKARTA - Tahun 1973, Amerika Serikat mencatat sejarah bagaimana mereka mengawali penguatan dolar dengan memanfaatkan pergerakan mata uang di bisnis minyak dan gas bumi. Untuk misi itu, Henry Alfred Kissinger yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS berangkat ke Arab Saudi. Kissinger menjumpai pihak kerajaan, menawarkan agar penjualan minyak dilakukan dengan menggunakan dolar AS. Sejak itulah "Negeri Paman Sam" menjadikan mata uang mereka menguat di pentas dunia.

Hal itu diceritakan oleh Menteri Bidang Perekonomian Darmin Nasution, saat berbicara di Gedung Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Selasa (24/7/2018), saat memaparkan bagaimana sejarah sehingga dolar AS membawa pengaruh besar, hingga menjadi acuan utama mata uang di berbagai negara.

"Kissinger diutus ke Arab Saudi (pada 1973), menemui Raja Faisal dan meminta dukungan supaya siapapun yang membeli minyak harus pakai dolar AS," kata Menko Darmin, yang juga bercerita bahwa sebelumnya untuk jual beli minyak justru menggunakan mata uang real. Namun karena adanya janji politik berujung keputusan bahwa Arab Saudi bersedia menerima tawaran AS tersebut. "Arab Saudi mau (menerima tawaran itu), tidak lama negara-negara teluk lain pun mau. Sejak itu dolar diperlukan oleh semua negara."

Strategi dan langkah diplomasi yang dilakukan AS pada tahun 1973 itu menjadi titik balik sangat penting bagi AS sehingga mata uang mereka bisa mendikte sebagian besar mata uang dunia. Sebab, menurut Menteri Darmin, AS memahami sejak lama bahwa akan ada dampak luar biasa juga berhasil menjadikan mata uang mereka menjadi mata uang yang mendunia. Hampir seluruh negara membutuhkan dolar, hingga permintaan dolar di berbagai negara pun meningkat tajam.

Jika lazimnya mencetak uang dalam jumlah besar berujung inflasi, berbeda halnya dengan AS karena pengaruh mata uang di pentas dunia mereka dapat mencetak uang besar-besaran tanpa perlu merasa khawatir atas kemungkinan terjadinya inflasi. "Kenapa dia bisa? Karena dolar AS itu diperlukan di mana-mana. Walaupun negara seperti Rusia--yang terkenal sebagai lawannya AS--tetap perlu dolar AS," Menteri Darmin menggarisbawahi.

Menteri Darmin juga berterus terang bahwa ada potensi bahwa dollar AS semakin perkasa terhadap perekonomian di seluruh dunia, terlebih lagi didukung rencana Federal Reserve Bank untuk meningkatkan suku bunga acuan kembali. Kemungkinan ini bisa berakibat kepada mengalirnya dana dari negara-negara berkembang ke AS, akibat dari imbal hasil yang lebih menarik.

Kemungkinan itu bisa saja terjadi lantaran mengingat bahwa AS pun didukung lagi dengan sikap protektif negara tersebut terhadap perdagangan. Isu "Perang Dagang" adalah salah satu kondisi yang lahir dari itu, lantaran AS semakin memperketat perdagangan terhadap Cina, Uni Eropa, dan beberapa negara yang ditengarai memiliki pengaruh kuat di dunia perdagangan global. 

Indonesia sendiri, sejauh ini masih dalam proses ditinjau oleh AS, terkait fasilitas Generalized System of Preferences (GSP), yang selama ini sejatinya sangat membantu ekspor Indonesia ke negara tersebut. Maklum, karena dengan GSP itulah Indonesia bisa mendapatkan pengurangan tarif setiap kali melakukan ekspor ke "Negeri Paman Sam" ini.***
(Editor: Zo)

 

 

Darmin Nasution
DATA BERITA TERPOPULER
Jalan Teraspal 85 KM di Perbatasan RI-Timor Leste, PUPR Targetkan sampai 131 KM
KUWERA | Jakarta - Pemerintah masih terus melaksanakan pembangunan jalan perbatasan di kawasan terlu...
20 Mei 2019
Hemat Devisa Negara, Green Fuel Jadi Perhatian Serius Pemerintah
KUWERA.ID | Jakarta - Pemerintah memastikan sudah mengambil berbagai langkah untuk menekan defi...
20 Mei 2019
Produk Manufaktur Catat 74,77 Persen dari Total Ekspor RI
KUWERA.ID | Jakarta - Industri pengolahan nonmigas konsisten memberikan kontribusi paling besar terh...
20 Mei 2019
Usai Studi Kelayakan, LHK Keluarkan Izin 422 Ha untuk Bendungan
KUWERA.ID | Ambon - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, telah menerbitk...
20 Mei 2019
Generasi Milenial Topang Penerapan Ekonomi Digital
JAKARTA | KUWERA.ID - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi ...
18 Mei 2019
Garap 98 Proyek Strategis, Pertamina Alokasikan 27,4 Triliun
JAKARTA | KUWERA.ID - PT Pertamina (Persero) sudah mengalokasikan USD 1,9 miliar atau setara Rp 27,4...
18 Mei 2019
Prioritas Pemerintah, Kementerian PUPR Bangun Jalan Akses 17 KM di Mandalika
MANDALIKA | KUWERA.ID - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR)...
18 Mei 2019
Menko Darmin: Pemerintah Sudah Terapkan Strategi Genjot Ekspor
JAKARTA | KUWERA.ID - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Jumat (17/5/...
18 Mei 2019
Kembangkan UMKM, Kemenkop Gandeng 3 Perguruan Tinggi
JAKARTA | KUWERA.ID - Kementerian Koperasi dan UKM menggandeng tiga perguruan tinggi untuk menyusun ...
17 Mei 2019
Soal Sistem Pengawasan, Kemenkop Siap Belajar dari Bank Dunia dan OJK
JAKARTA | KUWERA.ID - Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno mengakui ke...
17 Mei 2019