My Location: (Showing)
Search
Logo Kuwera.ID
BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,06 Persen Tertinggi Sejak 2015 | OJK Minta Keuangan Syariah Manfaatkan Teknologi Digital | Darmin Nasution membeberkan di tengah persoalan ekonomi dunia, masih ada peluang baik seperti ekonomi digital yang justru meningkat pesat. | Indonesia Punya Peluang Besar Ekspor Mobil ke Australia | Saat berbicara usai membuka The 6th ASEAN OSHNET Conference atau Konferensi ASEAN OSHNET Keenam, Kamis (28/3/2019), Hanif menggarisbawahi bahwa  di era pemerintahan Joko Widodo, telah tercipta 10.540.000 lapangan pekerjaan. | Demi memanfaatkan potensi pertumbuhan ekonomi agar lebih maksimal, wajar bagi sebuah negara menarik utang dari dalam maupun luar negeri, kata Faisal Basri dalam orasi kebudayaan kampanye ekonomi 2019 di Soehana Hall, Energy Building, Jakarta Selatan, Kamis, 11 April 2019 |

Pertanian Konservasi Bantu 16.000 Petani Kecil Hadapi Perubahan Iklim
11 Feb 2019

Pertanian Konservasi Bantu 16.000 Petani Kecil Hadapi Perubahan Iklim
Tercatat, hampir 800 kelompok tani di 28 kabupaten baik di NTT dan NTB. 

Kupang, NTT - Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menjalankan program Pertanian Konservasi untuk membantu 16.000 petani kecil beradaptasi dengan perubahan iklim menggunakan teknik khusus. Pendekatan baru yang sudah diperkenalkan sejak 4 tahun ini membantu para petani untuk menghadapi perubahan cuaca ekstrem, sambil meningkatkan produksi dan memperbaiki tanah mereka. 

Dalam Lokakarya di Kupang, NTT pada Kamis (7/2) yang sekaligus menandai secara resmi berakhirnya proyek, perwakilan utama Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) hadir. Seluruh elemen masyarakat ini pun mengikuti kunjungan lapangan ke lokasi pengembangan Pertanian Konservasi di desa Camplong.

“Teknik pertanian konservasi amat bermanfaat terutama diterapkan di lahan kering –iklim kering. Teknik pertanian ini memungkinkan untuk mengkonservasi air di daerah perakaran. Hal ini membuat tanah mampu menyimpan air di saat musim hujan dan tetap menyimpannya saat musim kemarau. Hal ini membuat petani di daerah kering mampu panen sampai dua kali dalam setahun,“ ungkap Dedi Nursyamsi, Koordinator Nasional Projek Pertanian Konservasi/ Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian, Kementerian Pertanian. 

Dedi mengungkapkan dengan intensitas panen yang semakin meningkat, tenaga kerja juga semakin banyak untuk terserap dalam pertanian, petani perempuan dan pemuda tani banyak terlibat dalam pengembangan teknik ini. Tercatat, hampir 800 kelompok tani di 28 kabupaten baik di NTT dan NTB. 

Dari kegiatan tersebut, petani-petani kecil yang terlibat dalam Pertanian Konservasi terbukti mampu meningkatkan produktifitas jagung mereka menjadi lebih dari 4–5 ton selama puncak kekeringan ketika El Nino pada 2015 dan 2016. Padahal dengan metode tradisional hanya memberi 2,5 ton atau bahkan kurang. 

“Dengan Pertanian Konservasi, penggunaan air dihemat, tanah dilestarikan, dan penggunaan pupuk semakin efektif. Sistem ini akan berkelanjutan guna melindungi tanah, air, dan lingkungan,” ungkap Gubernur Provinsi NTT, Victor Laiskodat di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Setelah empat tahun menerapkan teknik-teknik baru, petani juga telah menunjukkan bahwa kualitas tanah mereka meningkat lebih subur, dengan kandungan karbon dan nitrogen tanah yang jauh lebih tinggi. Selain produksi jagung yang lebih tinggi, banyak petani juga menanam berbagai jenis kacang dan tanaman lain untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menyediakan makanan bergizi bagi keluarga mereka.

Pada awal 2018, setelah keberhasilan yang dicapai di NTT dan NTB, praktik Pertanian Konservasi ini berhasil diperkenalkan kepada petani di tiga provinsi yang juga mempunyai lahan kering dan iklim kering yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.

Anang Noegroho Direktur Pertanian Bapenas mengatakan pertanian konservasi yang diimplementasikan bersama FAO merupakan model IPTEK pertanian berkelanjutan yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan kering ditengah perubahan iklim yang semakin serius. 

"Bappenas mengharapkan pola teknik pertanian konservasi ini dapat menjadi salah satu model yang dapat direplikasi di lokasi lainnya dalam mendukung ketahanan pangan lokal,” ujar Anang.

Awalnya, kelompok tani belajar melalui Sekolah Lapangan Pertanian Konservasi, sebuah teknik belajar bagi petani yang dikembangkan di Indonesia lebih dari 20 tahun yang lalu dan sekarang diadopsi di seluruh dunia. Petani berkolaborasi untuk mengamati secara langsung praktik kombinasi teknik pertanian konservasi di lahan mereka sendiri sebagai tempat belajar dengan mengamati mencatat dan mendiskusikan apa yang terjadi selama uji coba, dengan difasilitasi oleh penyuluh pertanian.

“Teknik-teknik pertanian konservasi memungkinkan para petani untuk meninggalkan praktik-praktik Pertanian konvensional yang dapat menyebabkan turunnya kesuburan lahan dan hilangnya sebagian besar panen mereka menghadapi perubahan iklim, dan juga memperkenalkan tingkat mekanisasi yang cocok guna mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Kami berharap teknik ini akan lebih diperluas di Indonesia untuk mengembangkan pertanian dan petani yang lebih tangguh dan membawa kesejahteraan bagi para petani,” kata perwakilan FAO di Indonesia Stephen Rudgard pada acara penutupan di Kupang.***

Kebijakan Ekonomi
Pemberdayaan Ekonomi
DATA BERITA TERPOPULER
Bahas Infrastruktur, Presiden Jokowi Panggil Tiga Gubernur ke Istana
JAKARTA | KUWERA.ID - Presiden Joko Widodo atau Jokowi tiga gubernur dari berbagai kawasan...
23 Apr 2019
Jelang Ramadan, Presiden Jokowi Kerahkan Petinggi Negara Pastikan Harga Stabil
JAKARTA | KUWERA.ID - Menjelang bulan suci Ramadan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan ...
23 Apr 2019
Industri Melesat, Serap 18 Juta Tenaga Kerja
JAKARTA | KUWERA.ID - Serapan tenaga kerja di sektor industri terus meningkat yakni dari 15,54 juta ...
23 Apr 2019
Investasi Meningkat, Pemerintah Aktif Siapkan SDM Industri Kompeten
JAKARTA | KUWERA.ID - Menghadapi perkembangan industri dan investasi yang meningkat, pemerintah mela...
23 Apr 2019
Harga Terpantau Stabil, Pemerintah Minta Masyarakat Tidak Resah
GORONTALO | KUWERA.ID - Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Goron...
23 Apr 2019
Pastikan Harga Stabil, Kemendag Pantau Harga Kebutuhan Pokok hingga Lebaran
BENGKULU | KUWERA.ID - Menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, Kementerian Perdagangan (Kemendag...
23 Apr 2019
Kementan Sosialisasi Alat Pertanian Modern kepada Pelajar
JAKARTA | KUWERA.ID - Gencarnya Kementerian Pertanian (Kementan) melaksanakan berbagai program untuk...
23 Apr 2019
Industri Mainan Anak Produk Indonesia Catat Ekspor Lebih dari USD 319 Juta
JAKARTA | KUWERA.ID - Industri mainan menjadi salah satu sektor manufaktur yang mampu memberikan kon...
22 Apr 2019
Di London, OJK Ajak Investor Inggris Berinvestasi di Pasar Keuangan Indonesia
JAKARTA | KUWERA.ID - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundang investor Inggris untuk berinvesta...
22 Apr 2019
Industri Penerbangan Berpotensi Serap Tenaga Kerja Perempuan 50 Persen
JAKARTA | KUWERA.ID -- Industri penerbangan internasional mendorong keterlibatan para pere...
22 Apr 2019