My Location: (Showing)
Search
Logo Kuwera.ID
Cina Ingin Beli 2 Juta Ton Produksi Kelapa Sawit Indonesia | BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,06 Persen Tertinggi Sejak 2015 | Pemerintah Upayakan Cara Terbaik Pembebasan Tanah untuk Infrastruktur | OJK Minta Keuangan Syariah Manfaatkan Teknologi Digital | Cadangan Devisa Indonesia Akhir April Sebesar 124,9 Miliar USD | Presiden Jokowi meminta masyarakat membantu mengangkat Asian Games 2018 | Tidak kurang dari 157 ribu personel gabungan siap mengamankan arus mudik Lebaran 2018 |

`
Taman Nasional Komodo Tak Ketinggalan Sambut Pertemuan Tahunan IMF-World Bank
Sabtu, 6 Oktober 2018

Taman Nasional Komodo Tak Ketinggalan Sambut Pertemuan Tahunan IMF-World Bank





FLORES -  Baru-baru ini (2/10/2018) Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman baru saja mengakhiri kegiatan Fasilitasi Penguatan Kapasitas Naturalis Guide di Taman Nasional Pulau Komodo (TNK).

Kegiatan yang dibuka oleh Asisten Deputi Pendikan dan Pelatihan Maritim  Tb. Haeru Rahayu  ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas para pemandu wisata dalam memberikan pelayanan dan pendampingan kepada para pengunjung wisata  di Taman Nasional Pulau Komodo (TNK) khususnya di lokasi Loh Liang dan Loh Buaya.

Kegiatan Fasilitasi Penguatan Kapasitas Naturalis Guide TNK ini dibagi menjadi dua angkatan yang masing-masing angkatan diikuti oleh 34 peserta. Angkatan pertama berlangsung mulai tanggal 29 sampai dengan 30 September 2018, sedangkan angkatan ke dua dilaksanakan pada tanggal 1 sampai dengan 2 Oktober 2018.

Materi yang diberikan terdiri dari Wawasan Kemaritiman bagi Naturalis Guide TNK, Kebijakan Pengelolaan Taman Nasional Komodo, Bioekologi Biawak Komodo dan Teknik dan Etika Pemanduan. Materi-materi tersebut disampikan oleh Kemenko Bidang Kemaritiman, Taman Nasional Komodo, Yayasan Komodo Survival Program (KSP) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI).

Sejalan dengan tren meningkatnya kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo, dan dalam rangka menyambut kunjungan peserta sidang IMF-World Bank ke Taman Nasional Komodo, maka Balai Taman Nasional Komodo dengan didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman melaksanakan kegiatan ini .

“Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas Naturalis Guide sehingga lebih professional dan kompeten. Dengan guide berkualitas, keamanan pengunjung lebih terjamin. Tentunya dengan catatan yang dipandu harus mengikuti arahan dari pemandu-pemandunya,” pungkas Asisten Deputi Pendidikan dan Pelatihan Kemenko Maritim Tb. Haeru Rahayu.

Kepala Taman Nasional Pulau Komodo Budhy Kurniawan, baru-baru ini menunjukkan kegembiraannya lantaran adanya peningkatan kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo.

Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo akhir-akhir ini berdampak pula pada semakin meningkatnya kebutuhan akan tenaga pemandu dan interpreter yang kompeten.

Tenaga interpreter ini perlu diberikan bekal pengetahuan baik tentang etika pemanduan maupun tentang kawasan Taman Nasional Komodo, sehingga dapat melayani dan memberikan keamanan kepada pengunjung.

Tenaga pemandu  taman nasional komodo wajib memahami kawasan yang dipandunya, juga harus menguasai ilmu dan etika pemanduan (interpreter), berkemampuan menyusun dan mengkomunikasikan program-­program wisata alam dalam kegiatan pemanduannya, sehingga kunjungan wisatawan yang dipandunya selain menjadi lebih bermakna juga tidak menyalahi aturan,etika, adat setempat juga menjaga lingkungan (konservasi).

Mengenal Komodo

Komodo dragon (Varanus komodoensis) adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Komodo dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa Komodo adalah kadal varanid prasejarah yang pernah hidup di seluruh Indonesia dan Australia, yang sebagian besar, bersama dengan megafauna lainnya, punah setelah era Pleistosen. Fosil yang sangat mirip dengan Varanus komodoensis yang ditemukan di Australia berusia lebih dari 3,8 juta tahun.

Meskipun demikian, fosil purba ini hidup dengan ukuran yang sama seperti jutaan tahun yang lalu di Indonesia. Wisatawan yang berminat dapat mengagendakan kunjungan ke Taman Nasional Komodo untuk melihat Komodo di habitat aslinya.

Meskipun komodo terkesan lamban, sebenarnya kadal ini dapat dikategorikan sebagai hewan yang berbahaya. Air liur komodo mengandung bakteri dan racun.  

Dalam laman resmi Smithsonian’s National Komodo Zoo & Conversation Biology Institute, kelenjar racun pada komodo ditemukan di rahang bawahnya. Racun ini dapat menghambat atau bahkan mencegah pembekuan darah secara normal.

Selain liur, senjata komodo lainnya ada tiga yakni kuku, gigi dan ekor. Komodo memiliki 5 kuku tiap kaki yang panjang dan cukup tajam. Dengan gigi dan cengkeraman rahang yang kuat komodo mencabik mangsanya.

Gigi komodo bukan untuk mengunyah melainkan untuk mencabik atau merobek daging. Seperti hiu, gigi yang copot dapat tumbuh kembali. Badan komodo dapat tumbuh hingga sepanjang 3 meter dan berat mencapai 70 kg. Ditambah dengan lari yang cepat, kemampuan berenang dan penciuman komodo sangat tajam, hingga mampu mencium darah hingga radius 7 km.

Jadi, jika kebetulan melihat komodo di pantai dan pengunjung taman nasional berada di perahu, jangan ceroboh untuk memprovokasi komodo. Kadal raksasa ini dapat berenang ke perahu dan komodo bukan teman menyenangkan untuk berlayar bersama-sama.

Pemberdayaan Ekonomi
KABAR RILIS TERPOPULER
Hampir Empat Tahun, Ekspor Peternakan Capai Rp 30,15 Triliun
JAKARTA - Kementerian Pertanian masih menunjukkan usaha keras untuk mewujudkan Indonesia menjadi lum...
15 Nov 2018
Jelang Pertemuan ASEAN-Rusia, Vladimir Putin Ingin Bertemu Jokowi Lagi
JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin menunjukkan ketertarikan untuk dapat bertemu dengan Presiden...
9 Nov 2018
Jokowi Bagi 3 Ribu Sertifikat di Tegal dan Ingatkan Bahaya Politikus Genderuwo
SLAWI - Jumat (9/11), Presiden Joko Widodo bertolak ke Jawa Tengah untuk kunjungan kerja. Pemba...
9 Nov 2018
Riset Sakernas 2018: Lapangan Kerja Sektor Jasa Terus Meningkat
JAKARTA – "Proporsi lapangan kerja sektor jasa terus meningkat," papar Menteri ...
9 Nov 2018
Kementerian LHK Kembangkan Industri Sutera Nasional Melalui Perhutanan Sosial
JAKARTA - Sebagai produsen sutera ke-9 di dunia, Indonesia memiliki potensi budidaya sutera alam yan...
7 Nov 2018
Empat Kementerian Bantu Nelayan untuk Berhemat Bahan Bakar dan Ramah Lingkungan
JAKARTA -  Empat kementerian dalam koordinasi dengan Kemenko Kemaritiman seperti Kementerian En...
30 Okt 2018
Saat PM Lee Menyambut Ma'ruf Amin dengan Sapaan "Pak Kiai" di Istana Singapura 
SINGAPURA - Prof Dr KH Ma'ruf Amin bertemu Perdana Menteri (PM) Singapura, Lee Hsien Loong, di I...
16 Okt 2018
Telkom Paparkan Strategi Indonesia Menuju Global Digital Hub di Indonesia Pavilion
NUSA DUA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memiliki peran penting dalam memastikan peme...
15 Okt 2018
Deputi Percepatan Infrastruktur Beberkan Hasil Proyek Strategis Nasional
JAKARTA - Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan investasi proyek, pemerintah mengalokasikan dana sebes...
10 Okt 2018
Hari Pertama Acara IMF - World Bank, Luhut Ajak Elite Lembaga Dunia ke Lokasi Bencana
LOMBOK BARAT - Pada hari pertama rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-WBG, Senin (8/10/2018) Menko K...
9 Okt 2018